Sabtu, Juli 25, 2020

Masalah Proyek Gagal Di Aceh: Soal Investasi, Nova Bukan Orang Pertama

Kasus angkat sauh Trans Continent dari KIA, bukan kasus pertama. Nova hanya melanjutkan tradisi dari rejim ke rejim. Yang tidak pro dunia bisnis. Bahkan rejim sebelumnya ada yang lebih parah. Saya akan menulis satu per satu sesuai ingatan saya. Dan sebatas yang saya ingat.

Pertama rejim Pak Mustafa Abubakar. Beliau mengajak Dublin Port Irlandia untuk mengelola Free Port Sabang. Sangat serius tapi kemudian menguap seiring dengan mentari pagi datang.

Kedua rejim IrNa, ekploitasi blok migas Alue Siwah oleh Medco. Pemerintah Aceh/ Pemkab Aceh Timur gagal mendapat mendapat PI ( Partisipating Interest). Alias saham partisipasi. Padahal itu amanah UU Migas dan UU otonomi Aceh 2001. Saya duga ada permainan dibalik ini.

Hibah turbin listrik arun 2007. Dalam perjanjian hibah apabila sampai 7 tahun tidak dimanfaatkan. Akan diambil kembali oleh pusat. Gagal dimanfaatkan walau telah ada investor. Tarik menarik kepentingan di ring Irwandi. Sampai dia kalah di pilkada 2012.

Ketiga rejim Zikir, ini rejim yang paling parah. Dan dengan jelas bromocorahnya keluarga dekat Gub. Turbin listrik hibah masa Ir Na juga gagal. Wagub bahkan sudah agrement dengan investor. Biaya pemanfaatan ditanggung investor dengan bagi saham. Aceh 49, investor 51. Aceh tak keluar 1000 perakpun. Tapi di batalkan Gub. Atas gesekan orang dalam. 2015 sesuai perjanjian hibah, Genset ini diambil kembali. Dan kini diurus anak usaha PLN.

Yang paling parah. Eks PT Arun yang di ubah menjadi regasisasi dengan nama Arun Perta Gas. Pusat sudah memutuskan saham partisiapasi Aceh adalah 30%. Nilainya sekitar 1 T. Sudah ada investor grup Ibrahim Risyad. Pembagian sama seperti turbin. Gagal karena di hasut keluarga. Sampai kini tak jelas. Dan PAG sudah bervaluasi berlipat lipat. Aceh raheung bak reudok.

Ada blok migas Pase. ESDM menghibah untuk Aceh. Awalnya Gub tidak setuju dikelola Triangle Pase. Ini perusahaan tidak kredibel asal Ausie. Tapi akhirmya mereka masuk via keluarga. Usai di setujui mereka kelola. Ternyata tidak mereka kelola. Tapi mereka jual kembali konsensi itu ke swasta nasional. Aceh tak dapat apapun dari proses alih konsensi itu.

Keempat rejim Irwandi Nova. Ada KEK Arun dengan segala promosi yang luar biasa. KEK Arun ada PT Patna. Jadi tempat Irwandi bagi bagi jabatan buat keluarga dan kroninya. Sampai kini tahunya menghabiskan APBA. Buat gaji dan operasional. Awalnya dikatakan menampung puluhan ribu naker. Sampai kini alas hak lahan masih belum dikuasai.

Kelima rejim tunggal Nova. 2018 konsensi EMOI berakhir. Seharusnya untuk perpanjangan konsensi ada saham partisipasi Aceh. Nova malah buat sensasi mengambil blok migas di Pase ini. Sampai 2x perpanjangan konsensi untuk Pertamina Hulu Energi. Jangankan ambil blok. Saham sak util tak jelas.

Terus dia juga agreement sampai ke China. Untuk membangun pabrik semen Laweung. Padahal izin dan kepemilikan pabrik itu mikik Semen Indonesia Group. Entah bagaimana dia mau bawa investor lain. Itupun sampai kini tak berkabar. 

Selanjut nya KIA yang begitu dibanggakan NoVa. Hari ini kita sudah tahu ceritanya.

Kesimpulan saya cuma satu saja. Seluruh pemimpin yang saya tulis diatas. Cuma tahu habiskan uang rakyat. Tak pandai cari uang. Tapi pandai mengumpul rente. Haram dan haram.

Ada yang mau menambah??

Dikutip dari facebook.com/murthala.murthalamuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar