Kontraktor Jadi Konsultan dan Pengawas

BLANGKEJEREN – Paket proyek lanjutan pembangunan Stadion Seribu Bukit sebesar Rp 4,4 miliar lebih di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Gayo Lues (Galus) mendapat sorotan tajam dari LSM Parlahan. Bagaimana tidak, kontraktor pemenang tender juga sebagai konsultan, sekaligus sebagai pengawas, sehingga dinilai tidak fair.

Ketua LSM Pemantau Korupsi dan Penyelamat Harta Negara (Parlahan) DPD Galus, Syukran, kepada Serambi, Selasa (24/7) mengatakan proyek lanjutan pembangunan stadion sepak bola Seribu Bukit Galus diduga menyalahi aturan dan prosedur. Dia mengatakan proyek itu yang bernilai Rp 4.446.494.000, bersumber dari dana Otsus 2012 disinyalir mark-up.

Dia menyebutkan, proyek tersebut hanya dikuasai seseorang karena orang yang sama merangkap tiga posisi, mulai dari kontraktor, konsultan sampai pengawas di lapangan. Disebutkan, pemenang tender kontraktor PT Mahara dan pengawas CV Joint Structure Design Consultant dan perencana CV Al Banna Consultant.

Akan tetapi, sebutnya, ketiga perusahaan tersebut berada dibawah satu orang. “Untuk itu, kebenaran dan keabsahan paket proyek yang sedang dikerjakan tersebut harus ditinjau ulang,” tegasnya. Menurutnya, dana Otsus 2012 sebesar Rp 4,4 miliar lebih itu patut dipertanyakan karena seorang kontraktor tidak boleh merangkap sebagai pengawas dan konsultan.

“Paket proyek pada Dispora Galus itu main kucing-kuncingan dan saling lempar bola antara satu dengan lainnya,” sebut Sukran. Dia merasa heran, perusahaan pemenang tender hanya sebagai lambang dan hal itu patut dipertanyakan.

Seperti diberitakan sebelumnya, atap tribun stadion seribu bukit Gayo Lues (Galus) masih dibiarkan rusak parah setelah diterjang angin kencang beberapa waktu lalu. Kerusakan itu dianggap sebagai bencana alam, sehingga menjadi tanggungjawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Galus untuk memperbaiki kembali.

Stadion ini yang akan ditingkatkan menjadi standar nasional dengan kebutuhan biaya mencapai Rp 74 miliar lebih sudah pernah ditinjau Sekdakab Galus, Abu Bakar Djasbi. Dia meminta pihak terkait untuk segera memperbaiki stadion kebanggaan rakyat Gayo Lues itu.

Tetapi, dalam dua tahun terakhir, 2010 dan 2011, Pemkab Agara tidak mengalokasi anggaran lagi. “Dalam dua tahun anggaran pembangunan tidak ada sama sekali yaitu 2010 dan 2011 lalu,” kata Sahyuti. Disebutkan, pada 2008 dianggarkan Rp 3 miliar, 2009 Rp 3 miliar dan Rp 2012 Rp 4,4 miliar atau total Rp 10,4 miliar lebih.

Silakan Usut

Direktur PT Mahara, Ismael yang dihubungi Serambi secara terpisah mengatakan silan diusut, kalau memang ada kejanggalan dalam proyek lanjutan pembangunan Stadion Seribu Bukit. Dia mengaku, perusahaannya hanya sebagai lambang karena tidak mengerjakan langsung proyek dan tidak sesuai dengan perjanjian.

“Kalau memang ada kenjanggalan dari paket proyek yang sedang dikerjakan tersebut silakan diusut terus,” sebut Ismael.  Salah seorang panitia tendera mengatakan proyek paket lanjutan pembangunan stadion bola kaki seribu bukit Galus 2012 hanya sekali tender. “Tidak benar dilakukan tender sampai tiga kali, seperti pengakuan Kadispora,” terang Sahrul, ST.

Tender Tiga Kali

Kadispora Galus yang juga selaku KPA dari paket proyek, Sahyuti SH, ketika dikonfirmasi kemarin membenarkan, perjanjian teken kontrak dengan perusahaan PT Mahara. Akan tetapi, sebutnya, kalau terkesan pihak lain yang mengerjakan paket proyek tersebut hal itu di luar pengetahuan dirinya.

Sahyuti mengaku, sebelumnya paket proyek itu sempat ditender tiga kali dimulai Mei 2012. Karena tidak ada masuk penawaran, maka dibuka tender kedua dan pemenang tender tidak bersedia berjumpa langsung dengan dirinya, sehingga dibatalkan. Terakhir, tender ketiga dimenangkan PT Mahara dan telah dilakukan teken kontrak, tandas Kadispora Galus itu. (c40)

Foto: alabaspos.com

Log in | Design by Varidati